May 072014
 

Avibras Astros II Mk 6 (all photos : Defense Studies)


Pada tanggal 5 Oktober lalu bertepatan dengan HUT TNI yang ke-67 dilangsungkan parade militer dan defile dimana publik dapat melihat tampilnya dua kendaraan peluncur roket multi laras baru buatan Brazil. Kendaraan ini telah didatangkan ke Jakarta melalui bandara Halim Perdana Kusumah yang selanjutnya dipamerkan di lapangan Monas.

Kendaraan buatan Avibras Aerospacial Brazil ini mempunyai nama ASTROS (Area Saturation Rocket System), diproduksi pertama kali pada tahun 1983 dan terus dikembangkan sampai sekarang. Serie yang dipilih Indonesia adalah dari tipe II dan generasi ke-6 (Astros II Mk 6). Sistem senjata ini mempunyai jangkauan jarak tembak hingga 85 kilometer.


Dengan anggaran senilai 405 juta dolar dan pola pembelian secara G to G maka TNI AD bisa mendapatkan 2 1/3 batalyon atau 42 unit peluncur roket multi laras sekaligus multi kaliber Astros II Mk 6. Pilihan terhadap Astros ini akan membawa lompatan yang besar pada kemampuan batalyon roket TNI AD, sebelumnya TNI AD mengoperasikan peluncur roket M-51 kaliber 130mm buatan Cekoslowakia yang mempunyai jarak jangkau tembakan 8km.

Ada 4 tipe roket/munisi yang siap digunakan untuk Astros II, masing-masing S-30, S-40, S-60, dan S-80. Dalam tahap awal munisi yang akan digunakan oleh TNI AD adalah S-80 yang mempunyai kaliber 300 mm dan jangkauan tembak hingga 85 km. Daya hancur yang ditimbulkan dari 1 munisi saja adalah area seluas 400mx550m, bisa dibayangkan daya hancur yang ditimbulkan jika 1 kendaraan Astros dapat membawa 4 munisi tersebut. Tipe S-80 ini terdiri dari 52 submunisi tipe tandan/cluster anti personil dan anti material dengan kecepatan tembak salvo 16 detik. Tiap submunisi memiliki radius efektif 52m dan daya tembus baja hingga 200mm serta dilengkapi alat penghancur sendiri (self destruction device).


Selain munisi tipe tersebut, untuk sarana latihan akan menggunakan munisi SS-09 berkaliber 70mm dan jangkauan tembak maksimal 10km dengan jumlah laras 32 buah. Penggunaan munisi latihan ini akan lebih praktis karena pada prakteknya akan muncul kesulitan untuk mencari lokasi latihan yang steril dari penduduk dengan jarak paling tidak 100 km.

Sistem pengisian ulang (reloading) munisi Astros ini sangatlah mudah, untuk satu set munisi yang dibawa oleh satu kendaraan Astros hanya dibutuhkan waktu 8 hingga 12 menit saja.
Astros MLRS menggunakan platform kendaraan Tatra 6×6 yang telah dimodifikasi dengan penggunaan pelat baja sehingga awak kabinnya terlindung dari tembakan hingga kaliber 7,62mm. Kendaraan ini juga dilengkapi dengan pelontar tabir asap dan senapan mesin berat kaliber 12,7mm. Kendaraan munisi dan bengkel lapangan dapat juga difungsikan sebagai peluncur roket (interchangeable) karena di dalam kabinnya telah dilengkapi dengan komputer penembakan. Kendaraan peluncur roket itu sendiri dioperasikan oleh empat orang.


Berat kosong kendaraan ini hanya 24 ton, bahkan dengan ukuran panjang 9,9m, lebar 2,8m, dan tinggi 3,2m memungkinkan Astros untuk dapat dengan mudah diangkut oleh pesawat sekelas C-130 Hercules, hal ini akan memudahkan Astros untuk disebar di daerah konflik yang lokasinya relatif jauh dari markasnya. Kendaraan Astros ini juga dapat dipacu hingga kecepatan 100 km/jam dengan daya jelajah hingga 600km.

Belum jelas kendaraan apa saja yang akan dibeli menyertai Astros MLRS ini, yang jelas dalam sistem Astros II secara lengkap terdiri dari beberapa kendaraan : Universal Multiple Launcher (AV-LMU), Ammunition Supply Vehicle (AV-RMD), Command and Control Vehicle/Fire Control Unit (AV-VCC), Optional Electronic Fire Control Unit (AV-UCF), dan Mobile Workshops (untuk perbaikan di lapangan).


Astros II beserta kendaraan pendukungnya (photo : Avibras)

Negara lain di kawasan yang mengoperasikan Astros MLRS adalah Malaysia, berbeda dengan Indonesia tipe yang dimiliki Malaysia adalah serie Astros II Mk 5. Malaysia pada tahun 2000 telah membeli Astros pada batch pertama sebanyak 18 unit dan diikuti dengan pesanan lanjutan pada batch kedua sebanyak 18 unit.

Pembelian Astros MLRS ini akan melengkapi modernisasi alutsista TNI AD yang akan tampil semakin gahar dengan alutsista lainnya yang cukup mumpuni yaitu Caesar SPH 155mm, MBT Leopard dan heli serang Apache.

(Defense Studies)

May 052014
 

PT Moto Arte Indonesia (MAI) selaku ATPM motor MV Agusta di Indonesia, kembali meramaikan pasar motor berkapasitas besar yang kini semakin sarat dengan teknologi canggih. Bertempat di kawasan Senayan City (28/4), model teranyarnya untuk tahun 2013, yaitu Brutale 800, Brutale 1090 dan Superbike F4RR diperkenalkan.
Ketiga produknya anyarnya ini untuk melengkapi model Brutale 675, Supersport F3 675, Superbike F4R dan F4RR yang telah hadir terlebih dahulu.
“Pada model tahun 2013 ini motor-motor MV Agusta memaksimalkan perangkat elektronik yang lebih canggih agar bisa mendongkrak performa dan handling tanpa mengurangi faktor keamanan,” jelas Steven Oentoro, Presiden Direktur PT Moto Arte Indonesia.
Merek moge asal Italia yang memiliki nama lengkap Meccanica Verghera Agusta, juga menghadirkan Brutale 800 Italia yang merupakan edisi khusus yang mana hanya akan tersedia dalam jumlah yang sangat terbatas untuk pasar Indonesia.
Sebelumnya, Brutale 800 merupakan pengembangan dari Brutale 675 dengan memanfaatkan langkah/stroke mesin yang lebih panjang. Sebagai salah satu moge termahal di dunia, PT MAI menargetkan penjualan sekitar 40 sampai 50 unit saja pertahun. “Pihak principal hanya membatasi sekitar itu, jika ada penambahan juga tidak tidak banyak yaitu sekitar 10,” urai Steven.
Karena MV Agusta dirakit di tanah air, harganya cukup kompetitif untuk motor kelas premium. MV Agusta Brutale 800 dijual Rp 290 juta, Brutale 1990 R dibanderol Rp 380 juta dan 1990 RR dilepas 425 juta sedang untuk Superbike F4RR dijual Rp 495 juta.
Oh iya untuk perbedaan harga dari versi R ke RR karena ada beberapa perbedaan komponen. “Sedikit beda pada peranti eletronik dan beberapa daleman komponen mesin yang sudah menggunakan bahan titanium, otomatis performa juga lebih meningkat,” terang Stevan.
Dalam kesempatan kali ini, PT MAI juga memperkenalkan MV Agusta Indonesia Owners Club. Salah satu kegiatannya mengkampanyekan Ride Safe dengan melakukan penyuluhan dan menyelenggarakan Urban Riding Course. “Kami selaku ATPM mendukung penuh tanpa intervensi apapun,” tutup Stevan.