May 072014
 

Tanggal 1 September 2012 empat unit pesawat Super Tucano versi EMB-314/A-29B mendarat di tanah air tepatnya di Landasan Udara (Lanud) Halim Perdanakusuma, Jakarta. Setelah menempuh penerbangan selama 14 hari dari pabriknya Embraer Defense System di Gaveao Pieixoto San Jose dos Campos, Brazil.

Lamanya penerbangan menempuh beberapa negara bukanlah hal penting dalam tulisan ini karena kelayakan terbang ideal pesawat tersebut hanyalah 5-6 jam penerbangan non stop. Perjalanan paling panjangnya adalah saat menlintas samudra Atlantik ditempuh dengan aman.

Ke empat unit pesawat tersebut tidak mengalami gangguan saat melintasi benua Amerika hingga tiba di benua Eropa dan seterusnya mendarat pertama sekali di Medan pada 1 September 2012 sebelum tiba di Lanud Halim Perdanakusuma.


Empat unit pesawat tersebut adalah rangkaian pemesanan 16 unit (1 skuadron) Super Tucano hingga 2014 yang akan datang. Diperkirakan pada Januari 2013 nanti Brazil akan menyerahkan empat unit lagi hingga tuntas semua pesanan pada 2014 nanti.

Pemesanan pesawat ini merupakan salah satu strategi dalam buku putih MEF Renstra-1 2010-2014 yang telah disempurnakan dalam strategi tahap ke dua di bidang pertahanan yang dikenal dengan istilah Strategic defance Review (SDR) yang memuat beberapa revisi dari buku putih MEF 2010-2014.

Penyempurnaan yang melibatkan Bappenas, Kemenkeu dan Mabes TNI AD, AL dan AU menghasilkan master list perlengkapan yang akan dibeli selama kurun waktu 2010-2014. Salah satunya yang telah disetujui adalah pembelian dan pengadaan satu skuadron Super Tucano.

Mengapa Super Tucano yang jadi pilihan tentu sangatlah berkaitan dengan strategi sistem pertahanan dan keamanan negara. Pesawat bermoncong grafis ikan Hiu dengan memiliki seri EMB 314 / A-29 memiliki spesifikasi ringan sebagai berikut :

Harga kosong (tanpa persenjataan) Rp.81 miliar per unitnya.
Jenis pesawat ini diutamakan untuk pesawat latih, intersepsi dan anti gerilya.
Kekuatan mesin 1600 tenaga kuda dengan kecepatan maksimum 560 km per jam.
Berkemampuan bermanufer di udara setara dengan F-5 E Tiger. Gaya grafitasi makismumnya antara +7g sampai -3,5 g. (Bandingkan dengan F-16 dan SU 29/30 yang memiliki kemampuan lebih baik mencapai 9 g). Sumber : http://indomiliter.com
Untuk jenis 314/A-29 memiliki tempat duduk hanya untuk 1 orang pilot (kursi tunggal).
Memiliki sistim persenjataan sebagi berikut :
Senjata mesin berat (SMB) kaliber 12,77 mm jenis FN Herstal M3P, masing-masing di satu di setiap sayapnya yang mampu memuat 250 peluru.
Bom MK-81/82, roket FFAR, Rudal berpandu laser sekelas Merverick, Rudal anti pesawat sejenis Sidewinder dan Prianha yang ringan tapi mampu berduel di udara dengan pesawat sekelas dengannya.
Total sistem persenjataan yang dapat diangkut diseluruh sayap dan bagian bawahnya adalah 1,55 ton.
Pesawat ini juga dilengkapi dengan sistem navigasi yang handal, salah satunya yang terpenting adalah radar RWR (Radar Warning Receiver), MAWS (Missile Approach Warning System), dan chaff/flare disepenser.
Kemampuan melihat obyek dengan sinar infra merah yang handal dengan adanya perlengkapan FLIR (forward looking infrared) tipe Star SAFIRE III seperti yang digunakan pada beberapa pesawat tempur canggih di atas kelasnya.
Sistem pertahanan dirinya juga tak kalah hebat dengan adanya RWR (Radar Warning Receiver), MAWS (Missile Approach Warning System), dan chaff/flare disepenser.
Mengapa disain grafisnya menggunakan moncong ikan Hiu? Tentu ini bukanlah soal selera pribadi pucuk TNI AU atau hasil kontes. Gaya moncong ikan hiu itu digunakan untuk memberi apresiasi dan terinspirasi oleh kehebatan pesawat seniornya pada jenis pesawat Mustang P-51 yang berjasa pada masa Perang Dunia II dalam mempertahankan keutuhan NKRI dari Belanda setelah kemerdekaan RI.


Reputasi Super Tucano dalam berbagai seri telah terbukti sangat ampuh dalam berbagai kepentingan sesuai peruntukannya (latih, intesepsi, anti gerilya dan menjaga perbatasan). Sejumlah 15 negara telah menggunakan jasa si super Tucano ini.

Beberapa reputasinya di 15 negara pemesan terlalu panjang untuk disebutkan. Yang jelas AS sendiri juga menggunakan super Tucano untuk beberapa oeprasi sesuai kontrak tahun 2009 pemesanan 100 unit Super Tucano yang pada umumnya digunakan oleh perusahaan Blackwater Service atau Blackwater Worldwide di seluruh wilayah operasional mereka. Sumber : Di sini

Melihat pada pemilihan jenis pesawat Super Tucano yang memiliki spesifikasi dan proses pembeliannya sebagaimana disebutkan di atas, kita dapat melihat bahwa arah kebijakan pemerintah khusus Kementrian Pertahanan RI sebagai berikut :

Tidak ada potensi perang dengan tetangga yang mengancam kedaulatan NKRI paling tidak untuk sementara ini.
Upaya yang berpotensi merusak keutuhan negara adalah dari dalam sendiri yaitu berupa insurgensi dan masalah perbatasan negara.
Potensi yang paling berpeluang mengacaukan kemanan nasional adalah persoalan gerilyawan, teroris dan pelanggaran perbatasan.
Pengadaan alutsista diarahkan untuk perlatan yang murah dan mampu bekerja optimal.
Anggaran pertahanan dialokasikan untuk meningkatkan kemampuan industri pertahanan dalam negeri dari berbagai perusahaan yang berafiliasi dengan kementrian pertahanan.
Kementrian pertahanan lebih hati-hati dalam pengadaan alutsista untuk mengeleminir sorotan terhadap timbulnya korupsi, gratifikasi maupun tindakan lainnya yang kontra produktif terhadap strategi MEF yang telah menjadi patokan utama pembenahan postur ideal TNI hingga 2024.
Pesawat ini akan ditempatkan di Lanud di Kalimantan Barat atau Kalimantan Timur untuk tujuan utamanya adalah mengawasi wilayah perbatasan dengan Malaysia.
Bergesernya ketergantungan semata-mata pada industri AS dan Eropa. Kerjasama pengadaan alutsista akan melibatkan kerjasama lebih terbuka dengan negara-negara industri Asia, Eropa Timur, Eropa Barat dan AS.
Kita berharap agar TNI mampu berbenah diri dan menyongsong masa depan sebagai kekuatan yang disegani oleh kawan dan lawan kembali seperti yang pernah dialami beberapa dekade sebelumnya. Bukan menjadi kekuatan yang lemah, tidak tegas, koruptif, tidak merakyat. TNI tidak akan menafikan makna filosofi dalam Sapta Marga. Artinya, bukan untuk menyakiti bangsanya sendiri demi kepentingan apa pun dan dari siapa pun.

May 072014
 

Avibras Astros II Mk 6 (all photos : Defense Studies)


Pada tanggal 5 Oktober lalu bertepatan dengan HUT TNI yang ke-67 dilangsungkan parade militer dan defile dimana publik dapat melihat tampilnya dua kendaraan peluncur roket multi laras baru buatan Brazil. Kendaraan ini telah didatangkan ke Jakarta melalui bandara Halim Perdana Kusumah yang selanjutnya dipamerkan di lapangan Monas.

Kendaraan buatan Avibras Aerospacial Brazil ini mempunyai nama ASTROS (Area Saturation Rocket System), diproduksi pertama kali pada tahun 1983 dan terus dikembangkan sampai sekarang. Serie yang dipilih Indonesia adalah dari tipe II dan generasi ke-6 (Astros II Mk 6). Sistem senjata ini mempunyai jangkauan jarak tembak hingga 85 kilometer.


Dengan anggaran senilai 405 juta dolar dan pola pembelian secara G to G maka TNI AD bisa mendapatkan 2 1/3 batalyon atau 42 unit peluncur roket multi laras sekaligus multi kaliber Astros II Mk 6. Pilihan terhadap Astros ini akan membawa lompatan yang besar pada kemampuan batalyon roket TNI AD, sebelumnya TNI AD mengoperasikan peluncur roket M-51 kaliber 130mm buatan Cekoslowakia yang mempunyai jarak jangkau tembakan 8km.

Ada 4 tipe roket/munisi yang siap digunakan untuk Astros II, masing-masing S-30, S-40, S-60, dan S-80. Dalam tahap awal munisi yang akan digunakan oleh TNI AD adalah S-80 yang mempunyai kaliber 300 mm dan jangkauan tembak hingga 85 km. Daya hancur yang ditimbulkan dari 1 munisi saja adalah area seluas 400mx550m, bisa dibayangkan daya hancur yang ditimbulkan jika 1 kendaraan Astros dapat membawa 4 munisi tersebut. Tipe S-80 ini terdiri dari 52 submunisi tipe tandan/cluster anti personil dan anti material dengan kecepatan tembak salvo 16 detik. Tiap submunisi memiliki radius efektif 52m dan daya tembus baja hingga 200mm serta dilengkapi alat penghancur sendiri (self destruction device).


Selain munisi tipe tersebut, untuk sarana latihan akan menggunakan munisi SS-09 berkaliber 70mm dan jangkauan tembak maksimal 10km dengan jumlah laras 32 buah. Penggunaan munisi latihan ini akan lebih praktis karena pada prakteknya akan muncul kesulitan untuk mencari lokasi latihan yang steril dari penduduk dengan jarak paling tidak 100 km.

Sistem pengisian ulang (reloading) munisi Astros ini sangatlah mudah, untuk satu set munisi yang dibawa oleh satu kendaraan Astros hanya dibutuhkan waktu 8 hingga 12 menit saja.
Astros MLRS menggunakan platform kendaraan Tatra 6×6 yang telah dimodifikasi dengan penggunaan pelat baja sehingga awak kabinnya terlindung dari tembakan hingga kaliber 7,62mm. Kendaraan ini juga dilengkapi dengan pelontar tabir asap dan senapan mesin berat kaliber 12,7mm. Kendaraan munisi dan bengkel lapangan dapat juga difungsikan sebagai peluncur roket (interchangeable) karena di dalam kabinnya telah dilengkapi dengan komputer penembakan. Kendaraan peluncur roket itu sendiri dioperasikan oleh empat orang.


Berat kosong kendaraan ini hanya 24 ton, bahkan dengan ukuran panjang 9,9m, lebar 2,8m, dan tinggi 3,2m memungkinkan Astros untuk dapat dengan mudah diangkut oleh pesawat sekelas C-130 Hercules, hal ini akan memudahkan Astros untuk disebar di daerah konflik yang lokasinya relatif jauh dari markasnya. Kendaraan Astros ini juga dapat dipacu hingga kecepatan 100 km/jam dengan daya jelajah hingga 600km.

Belum jelas kendaraan apa saja yang akan dibeli menyertai Astros MLRS ini, yang jelas dalam sistem Astros II secara lengkap terdiri dari beberapa kendaraan : Universal Multiple Launcher (AV-LMU), Ammunition Supply Vehicle (AV-RMD), Command and Control Vehicle/Fire Control Unit (AV-VCC), Optional Electronic Fire Control Unit (AV-UCF), dan Mobile Workshops (untuk perbaikan di lapangan).


Astros II beserta kendaraan pendukungnya (photo : Avibras)

Negara lain di kawasan yang mengoperasikan Astros MLRS adalah Malaysia, berbeda dengan Indonesia tipe yang dimiliki Malaysia adalah serie Astros II Mk 5. Malaysia pada tahun 2000 telah membeli Astros pada batch pertama sebanyak 18 unit dan diikuti dengan pesanan lanjutan pada batch kedua sebanyak 18 unit.

Pembelian Astros MLRS ini akan melengkapi modernisasi alutsista TNI AD yang akan tampil semakin gahar dengan alutsista lainnya yang cukup mumpuni yaitu Caesar SPH 155mm, MBT Leopard dan heli serang Apache.

(Defense Studies)